Wednesday, 27 July 2016

Apa itu Keputihan dan Penyebab Keputihan

Apa itu Keputihan?
Keputihan dikalangan medis dikenal dengan istilah leukore atau fluor albus, yaitu keluarnya cairan dari vagina. Leukore adalah semua pengeluaran cairan dari alat genetalia yang bukan darah tetapi merupakan manifestasi klinik berbagai infeksi, keganasan.
Pengertian lebih khusus keputihan merupakan infeksi jamur kandida pada genetalia wanita dan disebabkan oleh organisme seperti ragi yaitu candida albicans.
Keputihan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan abnormal (patologis). Keputihan normal dapat terjadi pada masa menjelang dan sesudah menstruasi, pada sekitar fase sekresi antara hari ke 10-16 saat menstruasi, juga terjadi melalui rangsangan seksual. Keputihan abnormal dapat terjadi pada semua alat genitalia (infeksi bibir kemaluan, liang senggama, mulut rahim, rahim dan jaringan penyangga, dan pada infeksi penyakit hubungan seksual).

Bahaya Keputihan?
1.      Infeksi chlamydia dapat menyebabkan terjadinya keguguran, pecah selaput ketuban dini. Infeksi ini bisa berakhir pada kematian pada ibu dan anak bila tidak ditangani dengan benar dan segera.
2.      Infeksi virus herpes simplex  apat menyebabkan radang pada otak bayi.
3.      Infeksi jamur candida dapat meningkatkan resiko terjadinya ayan.
4.      Infeksi virus HPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada bayi yang meyebabkan gangguan pencernaan bayi hingga kematiian
5.      Infeksi bakteri neisserea gonorhoea dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan
Gejala-gejala Keputihan ?
1.      Keluar cairannya berlebihan seperti menstruasi
2.      Cairannya kental dan berbau busuk
3.      Berwarna kuning hingga kehijauan
4.      Munculnya rasa panas pada vagina

Penyebab Keputihan?
Infeksi yang disebabkan oleh :

a. Bakteri (kuman)
·         Gonococcus
Bakteri ini menyebabkan penyakit akibat hubungan seksual, yang paling sering ditemukan yaitu gonore. Pada laki-laki penyakit ini menyebabkan kencing nanah, sedangkan pada perempuan menyebabkan keputihan.
·         Chlamydia trachomatis
Keputihan yang ditimbulkan oleh bakteri ini tidak begitu banyak dan lebih encer bila dibandingkan dengan penyakit gonore.
·         Gardnerella vaginalis
Keputihan yang timbul oleh bakteri ini berwarna putih keruh keabu-abuan, agak lengket dan berbau amis seperti ikan, disertai rasa gatal dan panas pada vagina.

b. Jamur Candida
Candida merupakan penghuni normal rongga mulut, usus besar, dan vagina. Bila jamur candida di vagina terdapat dalam jumlah banyak dapat menyebabkan keputihan yang dinamakan kandidosis vaginalis. Gejala yang timbul sangat bervariasi, tergantung dari berat ringannya infeksi. Cairan yang keluar biasanya kental, berwarna putih susu, dan bergumpal seperti kepala susu atau susu pecah, disertai rasa gatal yang hebat, tidak berbau dan berbau asam. Daerah vulva (bibir genitalia) dan vagina meradang disertai maserasi, fisura, dan kadang-kadang disertai papulopustular.
Keputihan akibat Candida terjadi sewaktu hamil maka bayi yang dilahirkan melalui saluran vagina pun akan tertular. Penularan terjadi karena jamur tersebut akan tertelan dan masuk kedalam usus. Dalam rongga mulut, jamur tersebut dapat menyebabkan sariawan yang serius jika tidak diberi pengobatan. Pada suatu saat jamur yang tertelan tadi akan menyebar ke organ lain, termasuk ke alat kelamin dan menimbulkan keputihan pada bayi perempuan.

c. Parasit
Parasit ini menimbulkan penyakit yang dinamakan trikomoniasis. Infeksi akut akibat parasit ini menyebabkan keputihan yang ditandai oleh banyaknya keluar cairan yang encer, berwarna kuning kehijauan, berbuih menyerupai air sabun, dan baunya tidak enak. Meskipun dibilas dengan air, cairan ini tetap keluar. Keputihan akibat parasit ini tidak begitu gatal, namun vagina tampak merah, nyeri bila ditekan, dan pedih bila kencing. Kadang–kadang terlihat bintik–bintik perdarahan seperti buah strawberry. Bila keputihan sangat banyak, dapat timbul iritasi di lipat paha dan sekitar bibir genitalia. Pada infeksi yang telah menjadi kronis, cairan yang keluar biasanya telah berkurang dan warnanya menjadi abu–abu atau hijau muda sampai kuning.
Parasit lain yang juga menyebabkan keputihan adalah cacing kremi. Cacing ini biasanya menyerang anak perempuan umur 2–8 tahun. Infeksi terjadi akibat sering bermain di tanah, atau penjalaran cacing dari lubang dubur ke alat genital. Keputihan akibat cacing kremi dasertai rasa gatal, sehingga anak sering menggaruk genitalianya sampai menimbulkan luka.

d. Virus
Keputihan akibat infeksi virus sering disebabkan oleh Virus Herpes Simplex (VHS) tipe 2 dan Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi HPV telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis, dan vulva. Sedangkan virus herpes simpleks tipe 2 dapat menjadi faktor pendamping.
Keluhan yang timbul pada infeksi VHS tipe 2 berupa rasa terbakar, nyeri, atau rasa kesemutan pada tempat masuknya virus tersebut. Pada pemeriksaan tampak gelembung–gelembung kecil berisi vesikel (cairan), berkelompok, dengan dasar kemerahan yang cepat pecah dan membentuk tukak yang basah. Kelenjar limfe setempat teraba membesar dan nyeri. Pada perempuan, penyakit ini dapat disertai keluhan nyeri sewaktu kencing, keputihan, dan radang di mulut rahim. Pencetus berulangnya penyakit ini adalah stres, aktivitas seks, sengatan matahari, beberapa jenis makanan, dan kelelahan.

Penyebab lain keputihan selain infeksi :
a.       Benda asing dalam vagina
ü  biji–bijian atau kotoran yang berasal dari tanah
ü  tampon
ü  kondom yang tertinggal didalam akibat lepas saat melakukan senggama
ü  cincin pesarium yang dipasang pada penderita hernia organ kandungan (prolaps uteri)
ü  IUD pada perempuan yang ber-KB spiral
b. Penyakit organ kandungan
Ø  peradangan
Ø  tumor → papiloma, sering menyebabkan keluarnya cairan encer, jernih, dan tidak berbau
Ø  kanker → kanker serviks (leher rahim), cairan yang keluar bisa banyak disertai bau busuk dan kadang disertai darah.

Cara mencegahan keputihan?

1. Menjaga kebersihan, diantaranya:
a.       Mencuci bagian vulva (bagian luar vagina) setiap hari dan menjaga agar tetap kering untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur.
b.      Saat menstruasi biasakan mengganti pembalut apabila sudah terasa basah dan lembab
c.       Menggunakan sabun non parfum saat mandi untuk mencegah timbulnya iritasi pada vagina
d.      Menghindari penggunaan cairan pembersih kewanitaan yang mengandung deodoran dan bahan kimia terlalu berlebihan, karena hal itu dapat mengganggu pH cairan kewanitaan dan dapat merangsang munculnya jamur atau bakteri
e.       Setelah buang air besar, bersihkan dengan air dan keringkan dari arah depan ke belakang untuk mencegah penyebaran bakteri dari anus ke vagina
f.       Menjaga kuku tetap bersih dan pendek. Kuku dapat terinfeksi Candida akibat garukan pada kulit yang terinfeksi. Candida yang tertimbun dibawah kuku tersebut dapat menular ke vagina saat mandi atau cebok.
2.      Memperhatikan pakaian, diantaranya:
a)      Apabila celana dalam yang dipakai sudah terasa lembab sebaiknya segera diganti dengan yang kering dan bersih
b)      Menghindari pemakaian pakaian dalam atau celana panjang yang terlalu ketat karena dapat meningkatkan organ kewanitaan
c)      Tidak duduk dengan pakaian basah (misalnya: selesai olahraga dan selesai renang karena jamur lebih senang pada lingkungan yang basah dan lembab
d)     Menggunakan pakaian dalam dari bahan katun karena katun menyerap kelembaban dan menjaga agar sirkulasi udara tetap terjaga.
3.      Mengatur gaya hidup, diantaranya:
a.       Menghindari seks bebas atau berganti–ganti pasangan tanpa menggunakan alat pelindung seperti kondom
b.      Mengendalikan stres
c.       Rajin berolahraga agar stamina tubuh meningkat untuk melawan serangan infeksi
d.      Mengkonsumsi diit yang tinggi protein. Mengurangi makanan tinggi gula dan karbohidrat karena dapat mengakibatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan
e.       Menjaga berat badan tetap ideal dan seimbang. Kegemukan dapat membuat kedua paha tertutup rapat sehingga mengganggu sirkulasi udara dan meningkatkan kelembaban sekitar vagina
f.       Apabila mengalami keputihan dan mendapatkan pengobatan antibiotik oral (yang diminum) sebaiknya mengkonsumsi antibiotik tersebut sampai habis sesuai dengan yang diresepkan agar bakteri tidak kebal dan keputihan tidak datang lagi

g.      Apabila mengalami keputihan yang tidak normal segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan agar segera mendapatkan penanganan dan tidak memperparah keputihan. 

No comments:

Post a Comment